Harga Minyak Dunia Berpotensi Naik hingga 130 Dolar AS per Barel

- Jurnalis

Jumat, 6 Maret 2026 - 12:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai harga minyak dunia masih berpotensi melonjak hingga mencapai 130 dolar AS per barel apabila konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin memanas.

Menurut Yayan, penurunan harga minyak yang terjadi belakangan ini dipicu oleh langkah Amerika Serikat yang menambah pasokan minyak ke pasar global. Namun, ia menilai kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan tidak akan bertahan lama.

Sebelumnya, harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh 118 dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2022. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, ketika Brent berada di kisaran 64 dolar AS per barel dan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sekitar 57,87 dolar AS per barel.

Pada Selasa, harga minyak dunia sempat turun ke kisaran 80–85 dolar AS per barel setelah negara-negara anggota G7 membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama untuk menekan lonjakan harga. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut operasi militer terhadap Iran telah “very complete”.

Meski demikian, Iran menyatakan tidak akan menerima gencatan senjata sebelum pihak yang menyerang mereka diberi balasan agar tidak kembali melakukan tindakan militer. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Yayan menilai eskalasi konflik dapat semakin meningkat, terutama jika Amerika Serikat benar-benar mengirimkan pasukan darat ke Iran. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi merusak infrastruktur energi dan mengganggu rantai pasok minyak global dalam waktu yang tidak dapat dipastikan.

Baca Juga :  Sarapan Bergizi dan Sentuhan Kasih, Cara Bunda PAUD Malinau Menyapa Awali 2026

Ia juga menilai Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis untuk menggeser sebagian pasar minyak Timur Tengah ke Amerika Serikat, sekitar 20 persen, dengan tujuan menekan harga minyak pada pertengahan hingga akhir 2026. Harga minyak yang lebih rendah nantinya dapat membuat biaya rantai pasok di Amerika Serikat menjadi lebih murah dan efisien.

Jika kamu mau, saya juga bisa membuat versi yang lebih singkat (seperti ringkasan berita 1 paragraf) atau versi yang sudah diparafrase agar tidak mirip dengan berita asli.

Follow WhatsApp Channel aktualnusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Mulai Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Goreng Jelang Lebaran
Insentif Konversi Motor dan Harga BBM Bersubsidi Jadi Sorotan Ekonomi
Gunung Marapi Erupsi, Abu Vulkanik Mencapai 1,6 Kilometer
Pegadaian Kelola 141 Ton Emas hingga 2025
Pimpinan MPR Kecam Serangan Sipil, Minta Negara OKI Waspada
Gibran Dorong Guru dan Orang Tua Kuasai AI di Era Transformasi Digital
Pembaruan Terkini Genangan di DKI Jakarta – 26 Januari 2026 Pukul 03:00 WIB
Prospek Cuaca Mingguan Periode 16–22 Januari 2026: Bibit Siklon Tropis Perkuat Konvergensi di Selatan Indonesia, Waspada Potensi Cuaca Ekstrem
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 10:21 WIB

Pemerintah Mulai Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Goreng Jelang Lebaran

Selasa, 10 Maret 2026 - 13:46 WIB

Insentif Konversi Motor dan Harga BBM Bersubsidi Jadi Sorotan Ekonomi

Senin, 9 Maret 2026 - 15:22 WIB

Gunung Marapi Erupsi, Abu Vulkanik Mencapai 1,6 Kilometer

Sabtu, 7 Maret 2026 - 12:29 WIB

Pegadaian Kelola 141 Ton Emas hingga 2025

Jumat, 6 Maret 2026 - 12:16 WIB

Harga Minyak Dunia Berpotensi Naik hingga 130 Dolar AS per Barel

Berita Terbaru

Nasional

Gunung Marapi Erupsi, Abu Vulkanik Mencapai 1,6 Kilometer

Senin, 9 Mar 2026 - 15:22 WIB

Nasional

Pegadaian Kelola 141 Ton Emas hingga 2025

Sabtu, 7 Mar 2026 - 12:29 WIB